Proses pengangkatan pegawai honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) hingga kini belum menemukan titik terang.
Menurut Anggota Komisi VIII DPR RI An’im Falachuddin hal itu dikarenakan proses yang masih ‘mentok’ di tingkat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Birokrasi (Menpan-RB), meskipun diklaim Kementerian Agama telah berjuang maksimal.
Karena itu, guna mengurai benang kusut tersebut, pria yang akrab disapa Gus An’im ini mengusulkan adanya rapat koordinasi gabungan antara Komisi VIII dan Komisi II DPR RI bersama kementerian terkait.
“Kita perlu duduk bersama dalam rapat gabungan antara Komisi VIII dan Komisi II untuk mencari solusi teknis mengapa permintaan pengangkatan PPPK dari Kemenag ini belum bisa diloloskan,” tegas Gus An’im dalam kunjungan kerja Komisi VIII di Pondok Pesantren Syeikh Zainuddin NW Anjani, Lombok Timur, NTB, Jumat (10/4/2026).
Gus An’im juga menyoroti persepsi publik mengenai adanya ketimpangan kecepatan respons pemerintah. Ia mengakui bahwa pengangkatan tenaga pendidik di sektor pendidikan umum terlihat jauh lebih cepat dibandingkan sektor pendidikan Islam atau guru madrasah.
“Harapan kita ada solusi cepat. Jangan sampai ada kesan pemerintah santai-santai dalam mengurus guru madrasah, sementara di pendidikan umum pergerakannya sangat gercep (gerak cepat),” tambah Politisi Fraksi PKB itu.
Selain isu kepegawaian, Gus An’im memberikan catatan tegas mengenai sorotan negatif yang sering menimpa institusi pesantren saat terjadi sebuah insiden. Sebagai sosok yang besar di lingkungan pesantren, ia mengingatkan bahwa kontribusi pesantren dalam menyelamatkan generasi muda dari pergaulan bebas jauh lebih besar dibanding segelintir kasus yang muncul.
Ia menyayangkan jika satu peristiwa di sebuah pesantren digunakan untuk menjatuhkan citra pesantren secara keseluruhan di mata masyarakat.
“Kita akui kemaksiatan bisa ada di mana saja, tapi jangan sampai peristiwa kecil merusak ‘susu sebelanga’. Pesantren telah memberikan kontribusi luar biasa dalam melindungi anak-anak bangsa dan menyelamatkan banyak orang dari pergaulan bebas yang menyolok di luar sana,” jelas Gus An’im.
Ia berpesan agar para pemerhati pendidikan dan media bersikap proporsional. Menurutnya, ribuan wali santri menitipkan anak ke pesantren dengan tujuan utama penyelamatan akhlak, sebuah peran vital yang seringkali luput dari deteksi dan apresiasi publik namun sangat dirasakan manfaatnya oleh bangsa.
