Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menyampaikan sejumlah catatan penting terkait hambatan dalam pengembangan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) nasional, khususnya pada PT Batam Aero Technic (BAT). Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah rendahnya Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) komponen pesawat.

Menurut Chusnunia, TKDN pada sektor MRO saat ini baru mencapai sekitar 10 persen, sementara 90 persen komponen masih harus diimpor dari berbagai negara. Kondisi ini menyebabkan biaya perawatan tinggi dan membuat daya saing industri nasional tertekan.

“Begitu kita perdalam, impor pun berasal dari banyak negara. Perusahaan-perusahaan besar banyak berpusat di negara tetangga, sementara di Indonesia sangat sedikit. Efeknya tentu ke harga dan daya saing industri kita,” jelasnya, di Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (21/11/2025).

Ia menilai kondisi tersebut sebagai hambatan sekaligus peluang. Dengan kebutuhan komponen yang masih sangat besar, Chusnunia mendorong masuknya industri komponen pesawat ke dalam ekosistem industri nasional.

“Kita tadi mention bahwa dengan kebutuhan impor yang 90 persen, ini justru peluang. Industri seperti Danantara bisa masuk ke sektor cadang pesawat,” ujar Politisi Fraksi PKB ini.

Selain masalah TKDN, Chusnunia menyoroti regulasi tertentu yang dianggap membebani pelaku industri MRO. Menurutnya, perlu dilakukan dialog lebih mendalam dengan kementerian terkait agar regulasi dapat lebih adil dan tidak menjadi hambatan perkembangan industri.

“Kalau regulasi hanya mengejar penerimaan negara tanpa mempertimbangkan daya saing industri, ini bisa jadi beban dan justru mematikan industri itu sendiri,” tegasnya.

Ia menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh atas dampak kebijakan. Pelonggaran pada satu sisi, katanya, bisa menghasilkan peningkatan penerimaan di sektor lain jika industri berkembang lebih pesat.

Komisi XII menyatakan siap mendorong pemerintah untuk menata ulang kebijakan agar industri MRO nasional seperti PT BAT dapat tumbuh berkelanjutan, kompetitif, dan mampu mengurangi ketergantungan pada komponen impor.

Comments are closed.

Exit mobile version