Kondisi infrastruktur pendidikan Islam di banyak daerah sangat memprihatinkan. Dalam kunjungan kerja Komisi VIII ke Pondok Pesantren Syeikh Zainuddin Nahdlatul Wathan, Lombok Timur, Anggota Komisi VIII DPR RI, Lale Syifaun Nufus, menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam.

İs menilai, secara umum, masih banyaknya madrasah usia tua yang kondisinya sudah tidak layak namun masih terus digunakan untuk proses belajar mengajar.

Lale menegaskan bahwa semangat santri yang luar biasa dalam menuntut ilmu harus dibarengi dengan fasilitas yang manusiawi. Ia pun mengajak seluruh mitra kerja Komisi VIII, khususnya Kementerian Agama dan Baznas Pusat, untuk berkolaborasi nyata di lapangan.

“Saya ingin menekankan kepada mitra-mitra Komisi VIII, mari kita bekerja sama membangun dan memperbaiki madrasah-madrasah yang sekiranya perlu diperbaiki. Sungguh luar biasa, ada madrasah yang cukup tua dan sebenarnya sudah tidak layak ditempati,” ujar Lale kepada oetoesan.com dengan nada prihatin di Provinsi NTB, Jumat (10/4/2026).

Selain masalah infrastruktur, Lale juga menyoroti pentingnya akses bantuan finansial bagi para santri. Ia menceritakan pengalamannya saat menyalurkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang disambut dengan antusiasme tinggi karena selama ini akses bantuan tersebut sangat terbatas bagi mereka.

Berdasarkan penuturannya, para santri bercerita bahwa sebelumnya dalam satu lembaga terkadang hanya satu hingga empat orang saja yang mendapatkan bantuan tersebut. Melalui advokasi yang dilakukannya, jumlah penerima bantuan bisa ditingkatkan secara signifikan, mulai dari puluhan hingga ratusan santri per lembaga.

“Mereka sangat merasa bahwa sekarang saatnya mereka memiliki wakil di DPR RI. Kata-kata itu membuat saya terenyuh. Inilah mengapa saya sangat mengharapkan mitra-mitra kami untuk bersama-sama menyejahterakan madrasah, guru, dan santrinya,” tambah Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.

Kehadiran perwakilan Kementerian Agama dan Baznas Pusat dalam kunjungan tersebut diharapkan Lale bukan sekadar formalitas, melainkan awal dari aksi nyata. Ia menekankan bahwa kesejahteraan dunia pendidikan Islam tidak bisa dicapai secara parsial, melainkan butuh komitmen kolektif antara legislatif dan eksekutif.

“Mari kita bersama-sama membantu madrasah dan santrinya. Dukungan ini adalah bentuk kehadiran negara untuk institusi yang selama ini menjadi pilar akhlak generasi bangsa,” pungkasnya.

Kunjungan ini menjadi momentum bagi para santri di Lombok Timur untuk menyuarakan harapan mereka, sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah pusat akan urgensi pemerataan bantuan dan perbaikan fasilitas pendidikan agama di daerah.

Comments are closed.

Exit mobile version