Regenerasi petani muda menjadi isu krusial dalam menjaga keberlanjutan sektor pangan, khususnya di Kabupaten Subang yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama di Jawa Barat. Peran strategis wilayah ini tidak hanya menopang kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap pasokan beras nasional.

Anggota DPR RI, Ateng Sutisna menegaskan bahwa posisi Subang sangat vital dalam rantai pasok pangan, mulai dari hulu hingga hilir, dengan penggilingan padi sebagai titik penting dalam proses konversi gabah menjadi beras siap konsumsi.

Namun demikian, sektor ini menghadapi tekanan serius yang bersifat multidimensi, mulai dari dampak perubahan iklim, stagnasi teknologi, ketimpangan pasar, hingga belum optimalnya infrastruktur irigasi.

“Ini sudah menjadi persoalan sistemik yang jika tidak ditangani dengan serius, akan berdampak langsung pada stabilitas pangan dan daya beli masyarakat,” ujarnya saat melakukan kegiatan reses Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025-2026 bersama Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (30/4/2026).

Kondisi tersebut turut berdampak pada harga beras premium di Subang yang dilaporkan meningkat hingga mendekati Rp15.000 per kilogram. Kenaikan ini berimbas pada penurunan daya beli masyarakat serta melemahnya volume penjualan di pasar lokal.

Di sisi lain, persoalan mendasar yang menjadi perhatian adalah melemahnya regenerasi petani, terutama dari kalangan generasi muda. Rendahnya minat anak muda dinilai bukan semata persoalan kemauan, melainkan karena sektor pertanian belum mampu menjamin kesejahteraan yang layak.

Berbagai tantangan seperti penghasilan yang tidak pasti, risiko gagal panen, fluktuasi harga gabah, keterbatasan akses modal, hingga sempitnya lahan membuat sektor ini kurang diminati. Kondisi ini diperparah dengan pergeseran struktur ekonomi Subang ke arah industrialisasi.

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun hanya sekitar 21,93 persen dari total petani di Indonesia dan diproyeksikan terus menurun. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap keberlanjutan sektor pertanian ke depan.

“Kalau regenerasi ini tidak kita jaga, maka yang terjadi kekurangan orang yang mau dan mampu mengelola lahan,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima oetoesan.com, di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Politisi Fraksi PKS itu mengingatkan, berbagai risiko dapat muncul apabila persoalan ini tidak segera diatasi, mulai dari penuaan petani, stagnasi produktivitas, alih fungsi lahan, hingga melemahnya ketahanan pangan di tingkat daerah maupun nasional.

Selain itu, kondisi industri penggilingan padi di Subang juga menghadapi tantangan. Jumlah penggilingan skala besar dan menengah menurun, sementara penggilingan kecil meningkat namun masih didominasi teknologi lama yang kurang efisien dan berdampak pada daya saing produk.

“Kalau kita ingin meningkatkan kualitas beras dan efisiensi produksi, maka modernisasi penggilingan padi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” ujar legislator dapil Jawa Barat IX, yang meliputi Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Sumedang tersebut.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong lahirnya Gerakan Regenerasi Petani Padi Subang dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Pertanian perlu diposisikan sebagai profesi modern yang produktif dan memiliki nilai ekonomi yang jelas.

Selain itu, dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai penting untuk mendorong transformasi penggilingan padi menuju sistem yang lebih modern, termasuk penggunaan teknologi seperti Rice Milling Unit (RMU) dan color sorter.

Peran negara juga dinilai penting melalui optimalisasi fasilitas Modern Rice Milling Plant (MRMP) yang dikelola BULOG, baik untuk meningkatkan kualitas beras nasional maupun menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat terus diperkuat agar Subang mampu mempertahankan sekaligus mengembalikan posisinya sebagai lumbung beras nasional.

“Jika anak muda kembali ke sektor ini dengan dukungan yang tepat, maka Subang bukan hanya bertahan, tetapi bisa kembali menjadi tulang punggung pangan nasional,” pungkas Ateng menutup keterangan resminya.

Comments are closed.

Exit mobile version