“Saya bilang kepada kepala desa, saya bilang ke Pak Bupati di sini, sebagai politisi, saya bukan milik yang nyoblos saja. Ini lebih kepada alasan kemanusiaan. Masa kita membiarkan masyarakat itu mengalami nasib yang terus menerus tidak kunjung selesai.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, saat memberikan sambutan di hadapan warga dan aparat pemerintahan di Kantor Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, Jumat (18/9/2026).

Kelakar itu disambut gelak tawa dari masyarakat yang hadir. Namun, Saan tidak sedang sekadar melempar candaan politik. Ia datang langsung ke masyarakat untuk memberikan solusi yang konkret.

​Kehadiran Saan di tengah ratusan warga menjelaskan bahwa predikat Pimpinan DPR RI bukanlah jabatan yang hanya berkutat di balik meja. Ia memilih turun ke akar rumput, mengawal aspirasi secara maraton, dan memastikan fungsi wakil rakyat benar-benar hadir jadi pelindung bagi warga yang bertahun-tahun diabaikan keadaan.

Di Karangligar, penderitaan warga bukan isapan jempol. Selama lebih dari 20 tahun, desa ini harus menderita “banjir abadi”, di mana air luapan bisa merendam ruang tamu mereka 20 hingga 30 kali dalam setahun. Saan pun sangat memahami derita psikologis mereka

“Lagi tidur enak-enak, dia bekerja keras, tiba-tiba harus mengungsi, harus keluar dari rumahnya. Rasa kekhawatiran, trauma, ketidakjelasan, ketakutan itu kan sudah terhindar (jika banjir teratasi),” ucapnya dengan nada prihatin.

Hadirnya Legislator Partai Nasdem di hari itu pun mulai membuat raut was-was perlahan pudar dari wajah masyarakat Karangligar. Kini, kecemasan tergantikan oleh suara bising alat berat di Karangligar. Pengerjaan proyek infrastruktur pengendali banjir sudah terpampang di depan mata.

Harapan yang lama terkubur lumpur pun akan segera terjawab tuntas. Infrastruktur pengendali banjir berupa bendungan dan sistem pompa yang dikawal ketat oleh Saan sejak November 2025 lalu, kini progres fisiknya telah mencapai 80 persen dan siap menahan limpasan air pada akhir Oktober mendatang.

Bupati Karawang, Aep Saepulloh, yang ikut hadir di kegiatan Kunspek tersebut sangat mengapresiasi andil sang Wakil Ketua DPR. Ia mengakui, keterbatasan anggaran daerah membuat masalah banjir belasan tahun ini sempat menemui jalan buntu.

“Alhamdulillah pada waktu itu Pak Saan mengundang Pak Menteri (Kementerian PU) dan ini Alhamdulillah sudah terealisasi. Saya pikir di desa Karangligar wabilkhusus masyarakat di sini dengan hadirnya Pak Wakil Ketua DPR telah memberikan bukti nyata,” ungkap Aep penuh syukur.

Bukti nyata itu tidak hanya mengembalikan tidur nyenyak warga. Lebih luas lagi, beroperasinya pengendali banjir ini turut menyelamatkan lebih dari 300 hektare sawah warga yang kerap hancur dilibas air, sekaligus menjaga muruah Karawang sebagai lumbung pangan Indonesia.

Usai menuntaskan urusan infrastruktur, langkah Saan belum berhenti. Di lokasi yang sama, ia beralih mengawal pilar kemanusiaan lainnya ketahanan pangan di tengah ancaman cuaca ekstrem.

​Bersama Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal, Wakil Ketua DPR RI itu membagikan bantuan pangan beras kepada tak kurang dari 370 warga miskin. Tawa bahagia pecah saat warga, yang mayoritas lansia, memanggul karung beras yang dirapel untuk jatah tiga bulan sekaligus.

​”Tujuan bantuan ini dibagikan untuk meringankan beban dari masyarakat-masyarakat yang ada di bawah,” jelas Dirut Bulog Ahmad Rizal, seraya menyebut bahwa masing-masing keluarga mendapatkan 30 kilogram beras bantuan untuk meringankan beban ekonomi mereka.

​Langkah kaki sang legislator penggemar olahraga ini seakan tanpa henti seharian. Dari urusan air yang “berlebih” karena banjir di Karangligar, Saan bergegas menuju Desa Wanakerta yang malah tengah menderita krisis air bersih akibat hantaman kemarau panjang.

​Di sana, Saan lagi-lagi tidak datang membawa pepesan kosong. Sebagai solusi jangka menengah, ia mengawal langsung realisasi pembuatan sumur bor baru untuk menghidupkan kembali akses air tanah bagi desa tersebut.

​Sembari menunggu sumur rampung, Saan mengerahkan tiga unit truk tangki air. Sebanyak 12.000 liter air bersih tumpah ruah mengisi jerigen-jerigen warga sore itu.

Di bawah langit sore Karawang, sang Wakil Ketua DPR membuktikan satu hal mutlak. Aspirasi tak akan berarti apa-apa tanpa diakhiri dengan eksekusi nyata. Berdampak buat rakyat bukan soal pilihan politik, tapi sebuah ikhtiar kepedulian yang memang sudah melekat dalam dirinya.

Comments are closed.

Exit mobile version